Selasa, 14 Maret 2017

Prolog

P r o l o g

Buku Hikmat terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah Kitab atau Syair Hikmah dan bagian kedua berisi Kumpulan Artikel Kebangsaan. 

Karena isinya syair, pada bagian pertama tidak semua orang akan mudah untuk memahami maksud dibalik kata-kata yang dituliskan, oleh karenanya apabila dirasa membingungkan, penulis menyarankan mereka yang tertarik dengan semangat kebangkitan bangsa untuk melewatinya dulu dan langsung masuk ke bagian kedua yang terdiri dari 10 Artikel.

Sebagai judul dari kumpulan Syair, makna Hikmah yang dimaksud adalah pelajaran kehidupan yang menghasilkan kebijaksanaan untuk menjalani hidup lebih baik, dengannya hukum sosial kemasyarakatan bisa dibangun dalam mewujudkan sebuah tatanan kebudayaan masyarakat yang secara alamiah mendekati kondisi ideal, yaitu masyarakat adil dan makmur.

Syair Hikmah tidak disertai referensi ilmiah karena bukan tulisan ilmiah. Menggunakan banyak bahasa simbolik yang tidak begitu saja bisa dimaknai secara literal. Untuk itu diharapkan kepada para pembaca yang ingin mengetahui makna atau pesan yang disampaikan dibalik tulisan diharapkan untuk bisa menanyakan langsung sehingga bisa dijelaskan apa adanya sebagaimana yang ada di benak penulis ketika menuliskannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kesalahan penafsiran atau terjadinya multi-tafsir yang keliru sehingga berakibat terjadi kesalahpahaman.

Apabila Anda perhatikan, gaya bahasa yang digunakan mengikuti gaya bahasa terjemahan Al Quran bahasa Indonesia, dibuat demikian agar menghasilkan kesan unik dan mendalam tentang hikmat dan kebijaksanaan di dalamnya, yang berasal dari pemahaman terhadap Al Quran, Alkitab, Bhagawad Gita, Sutta dan Pancasila terutama dalam konteks kekinian.

Tujuan penulisan adalah kebangkitan besar bangsa Indonesia yang mampu melahirkan era peradaban baru di dunia. Terinspirasi oleh penulisan Kitab Injil dalam Perjanjian Baru yang berisi intisari dari Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama di Alkitab, sebagai Petunjuk Tuhan yang digunakan untuk membangkitkan kesadaran umat manusia di kerajaan Romawi pada masanya sehingga menghasilkan era kebudayaan dan peradaban baru setelahnya di Eropa yang berpengaruh pada dunia hingga saat ini.

Hal ini sebagaimana Al Quran ketika diturunkan di Jazirah Arab yang “jahiliyah” tiba-tiba menjadi sebuah imperium bangsa yang besar dan berpengaruh kepada tatanan masyarakat dunia saat itu dan hingga kini.    

Hipotesa penulis, dengan menuliskan intisari dari apa yang dipahami dalam Al Quran maka tulisan Hikmah bisa digunakan untuk membangkitkan ruh kesadaran bangsa Indonesia dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan cara pandang hidup bangsa Indonesia sehingga menghasilkan sebuah kebudayaan yang mendasari lahirnya peradaban baru bagi dunia yang sering diistilahkan dengan Tatanan Dunia Baru atau The New World Order.

Momentum awal penulisan adalah semangat dari semakin dikenalnya situs megalitikum Gunung Padang di kota Cianjur bagi Dunia sebagai salah satu warisan leluhur kebanggaan bangsa Indonesia. Melihat hal tersebut sebagai salah satu momen kebangkitan bangsa yang besar,  rancangan awal Buku Hikmah kemudian diselesaikan dalam tempo yang sangat singkat, yaitu selama 12 hari, dari tanggal 1 Oktober sampai 12 Oktober 2016 di Jalan M Kahfi, Ciganjur, Jakarta, mengambil momen dari hari Kesaktian Pancasila dan perayaan hari Puisi atau Sastra Indonesia 2016.

Berasal dari dialog batin yang difokuskan kepada Yang Maha Hidup dalam konteks perjalanan spiritual pribadi sejauh yang dipahami diri dalam proses pencapaian hidup selama ini, akhirnya edisi pertama sebagai buku diselesaikan di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten pada tanggal 14 Februari 2017.

Hasil dari tanya jawab olah pikir dan rasa inilah yang menjadi tema dalam tulisan-tulisan Hikmah, menjadi esensi atau intisari dari pesan yang ingin disampaikan melalui 12 + 1 syair yang terdiri atas bait-bait, sebagai berikut:

1. Bangsa Indonesia                           - 52 Bait
2. Sujud                                               - 30 Bait
3. Peringatan                                      - 28 Bait
4. Para Pemberi Peringatan              - 45 Bait
5. Kepemimpinan                                - 50 Bait
6. Keterhubungan                               - 30 Bait
7. Pertolongan                                    - 36 Bait
8. Nasehat                                           - 28 Bait
9. Akhir Jaman                                    - 50 Bait
10. Kitab Kehidupan                           - 22 Bait
11. Kisah para Utusan                        - 26 Bait
12. Wahyu Penutup                              - 17 Bait
13. Kidung Sendu Arya                        - 16 Bait

Totalnya terdiri atas 430 Bait, sehingga apabila dijumlahkan dengan 6236 Ayat dalam Al Quran menjadi 6.666. Sebuah susunan angka yang menyimbolkan proses kehidupan manusia. Pertama dari tanah atau tiada, kedua berada dalam kandungan, ketiga hidup sebagai manusia dari bayi sampai ajal menjemput, kemudian keempat memasuki alam akhirat sebagai proses terakhir jiwa manusia sebelum kembali kepada Tuhannya.

Mengenai isi dari tulisan Hikmah, kembali menegaskan bahwa tulisannya sangat diilhami oleh pembacaan dan pemahaman Penulis terhadap Kitab Suci terutama Al Quran dan Alkitab serta Bhagawad Gita dan Sutta. Dikristalisasi menjadi Pancasila sebagai dasar negara atau cara pandang hidup bangsa Indonesia yang isinya mencakup keseluruhan nilai-nilai luhur dari semua tanah di Nusantara.

Pemahaman ini diperoleh dari sudut pandang perjalanan dan pembelajaran terhadap kehidupan yang tentunya dari sudut pandang diri pribadi, yaitu dari awal pembelajaran di usia dini sampai berusia 36,5 tahun saat Hikmah mulai dituliskan.

Menyadari adanya keterbatasan sudut pandang yang mengarah pada kemungkinan pandangan subjektif atas wawasan yang ada, apabila ada sesuatu yang dianggap tidak tepat dalam penyampaian, dimohon kepada para pemberi jalan hidayah untuk memberikan saran dan masukan yang lebih membangun.

Dari masa ke masa telah terbuktikan, bahwa wilayah yang terpecah belah penduduknya rentan terhadap kehancuran dan sebaliknya wilayah yang kokoh dan bersatu bisa menjadi kekuatan besar untuk memungkinkan terjadinya sesuatu yang hebat bagi sebuah bangsa.

Keragaman atau perbedaan yang ada di Indonesia, yaitu agama, suku, ras, dan golongan-golongan bisa berakibat baik sebagai Rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa atau sebaliknya. Tanpa Pancasila sebagai cara pandang dan kekuatan yang menaungi kehidupan bangsa Indonesia untuk hidup dalam kerukunan dan persatuan serta kesatuan akan sulit bangsa ini bisa bertahan.

Namun, apabila nilai Pancasila bisa dihidupkan dalam tata pemerintahan, perekonomian, dan pendidikannya, maka negeri ini akan bangkit dan berjaya dari keterpurukannya menjadi sebuah bangsa yang besar dan dikagumi oleh segala bangsa.

Berdasarkan idealisme tersebut tulisan Syair Hikmah dibuat dan agar mudah untuk diaplikasikan Syairnya dilanjutkan dengan 10 Artikel yang berisi gagasan perubahan yang praktis dan pragmatis untuk diterapkan oleh bangsa Indonesia. Gagasan yang diangkat berisi konsep-konsep sederhana yang bisa berakibat perubahan yang luar biasa besar ketika diaplikasikan.

Untuk bisa diaplikasikan, diperlukan konsep yang ada dalam artikel-artikel ini sampai kepada setiap rumah dan keluarga di Indonesia. Tujuannya agar di tahun 2019 kita bisa memilih para pemimpin di Lembaga Eksekutif maupun Legislatif seluruhnya, yaitu 700an manusia Indonesia terbaik yang sungguh-sungguh memahami dan menjalankan nilai Pancasila sebagai petunjuk dari Yang Maha Kuasa dalam membangun dan mensejahterakan negeri sebagaimana Visi dan Misi yang terdapat di Pembukaan UUD 45.

Kita membutuhkan pondasi perubahan yang sangat mendasar dalam memandang kehidupan untuk membangun sebuah kebudayaan bangsa yang adiluhung. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, tatanan masyarakat terkecil, sampai akhirnya tatanan negara sebagai tatanan paling luas bagi sebuah bangsa.

Pondasi utama itu adalah nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kepemimpinan, dan Keadilan Sosial. Dengannya semua rakyat dalam perikehidupannya berkhidmat kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga RahmatNya turun di bumi pertiwi.

Sebagaimana yang ditulis dalam artikel-artikelnya, apabila konsepnya dijalankan, maka hanya dalam waktu 5 tahun kepemimpinan, yaitu dari tahun 2019 sampai dengan 2024, Indonesia akan menjadi bangsa yang adil dan makmur untuk mencontohkan kepada dunia tata kehidupan berdasarkan Petunjuk Tuhan dari masa ke masa. Bangsa yang diibaratkan sebagai Mercusuar Dunia yang menerangi di kala gelap sehingga terbit fajar peradaban baru bagi seluruh umat manusia.

Semoga bangsa Indonesia menginsyafi perlunya kembali kepada semangat Pancasila dan UUD 45, menyalakan kembali ruh dan semangat yang telah menghidupkan dan mempersatukan negeri ini pada awal kebangkitannya, sebuah semangat yang memberikan harapan dan keyakinan yang besar bagi bangsa ini untuk bisa menjadi bangsa pemenang. Bukan atas dasar kekuasaan, melainkan menjadi bangsa di atas segala bangsa karena penghormatan yang tulus dari berbagai bangsa dan umat manusia sebagai Rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Terakhir, apabila Anda terinspirasi dengan apa yang disampaikan, silakan memperbanyak materi dan menyampaikan kabar berita ini kepada segenap keluarga, kerabat dekat, tetangga dan rekan-rekan di tempat bekerja. Perubahan besar yang dijanjikan ini hanya akan terjadi apabila semakin banyak yang mengetahui dan mendukungnya di seluruh penjuru Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Demikian yang ingin disampaikan dalam prolog ini, akhir kata: “Selamat membaca!”
Merdeka!




Penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar